Dari Coto Makassar ke Negeri Borneo.

Sebelum gw keterima kerja dan nyaris putus asa, bokap sempet nyaranin diri gw buat ngambil kuliah lagi. Karena motivasi dari bokap gw yang merupakan salah satu lulusan perguruan tinggi Luar Negeri (outside Indonesia), jadi didalam pikiran gw kalo mau lanjut kuliah jangan pernah ngambil di Dalam Negeri. Bagai anak kecil yang bercita-cita ke Bulan tapi ga pernah tau caranya. Gw pun disaat itu memasuki fase Anak-Kecil-Yang-Bercita-cita-Ke-Bulan. Setiap saat gw hanya bilang “aku mau kuliah di Eropa”, tanpa pernah melakukan riset gimana cara kuliah di sana. Bokap juga selalu bilang kunci untuk bisa keterima kuliah di Luar Negeri adalah second language which mean English. Tapi karena gw merasa udah 10 tahun belajar bahasa inggris (dari kelas 4 SD – Kuliah tahun ke-2), gw menggampangkan. Setiap diingetin untuk belajar Bahasa Inggris, gw selalu membuat excuse dan menyalahkan kerjaan gw yang bertumpuk. Hal itu berlanjut telama 4 bulan diawal gw bekerja. Setiap bokap nelp dia selalu mengingatkan untuk les Bahasa Inggris. Disatu sisi, tekanan bos gw dimasa probation juga membuat gw berpikir untuk resign. Well, gw manja karena bos gw wanita.  If you know what I mean. Akhirnya, setelah berjuang keras di masa probation yang berlangsung selama 3 bulan dan 1 bulan recovery, dibulan ke-5 gw memutuskan untuk mendaftar les Bahasa Inggris yang ga begitu jauh dari kosan.

Semacam anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru dari orangtuanya, di seminggu pertama gw dengan bangga menjalani les. Tanpa ada beban dan selalu menunda pekerjaan kantor dengan alasan mau les Bahasa Inggris. Sayang hal tersebut ga akan bertahan lama. Semangat goyah ketika hujan deras setengah jam sebelum kelas Bahasa Inggris dimulai. Bukan karena takut dengan air, tapi gw gamau pakaian gw basah ketika les. Selain itu masalahnya selanjutnya adalah gw benci membawa payung. Gw emang naik motor (pinjeman) sih jadi ga mungkin gw naik motor sambil pake payung. Jas ujan? Ada sih tapi ribet makenya. Intinya? Gw malas. Iya malas. Penyakit Malas gw kambuh. Penyakit yang susah disembuhkan kalo ga ada motivasi yang kuat.

Perjuangan dan pertarungan batin sih. Disatu sisi gw mau cita-cita gw untuk bisa kuliah di Eropa tercapai, akan tetapi disisi lain cuaca yang tidak bersahabat dan mendukung cita-cita gw. Belum lagi gw aktif banget orangnya. Seneng bersosialisasi dengan orang baru supaya punya temen walau gw orang Introvert. Jadi kadang kalo lagi ga ada kerjaan di kantor gw lebih memilih kumpul dengan temen-temen untuk street workout bareng. Setelah itu baru kelas Bahasa. Capek, menjadi salah satu excuse gw untuk malas-malasan kelas.

Ya namanya hidup, kalo ga kitanya yang keras, kita akan dikerasin. Jadi gw memilih untuk keras walaupun susah. Salah satu yang bisa buat gw semangat adalah support dari orang tua dan orang sekitar. Temen seperjuangan gw salah satunya, dia juga selalu nanya masalah les gw. Walaupun dia ga pernah menyuruh gw berangkat tapi semacam ada yang menyentil kalo gw males-malesan. Usaha berat berbuah manis karena diakhir les hasil Final Exam gw mengalami peningkatan skor yang signifikan. Sayangnya sertifikat yang gw dapat tidak diakui Internasional sehingga gw harus ambil tes khusus di luar les dengan biaya yang ga murah. Lagi-lagi semacam ada batu penghalang untuk mencapai cita-cita gw. Tapi karena udah punya cukup tabungan, akhirnya gw merelakan tabungan untuk beli mainan favorit dialihkan untuk membayar tes khusus tersebut. Karena udah pede di final exam hasilnya bagus, jadi pada hari-H tes gw juga pede aja. Ekspektasi gw terlalu jauh ternyata. Di hari pengumuman tes, nilai gw turun drastis dan jauh dari minimum requirement.

Entah karena keinginan yang kuat buat kuliah, gw ga peduli dengan hasil tes dan mulai browsing tentang kuliah di Eropa. Pas lagi cek, ternyata English score requirement bukan yang tesnya gw ambil melainkan nilai dengan tingkat tes yang lebih susah dari sebelumnya. Gw perjelas sedikit disini jadi sebelumnya gw ambil TOEFL PBT (Paper Base Test) akan tetapi yang dibutuhin untuk kuliah di Eropa adalah skor IELTS atau TOEFL iBT (internet Base Test). Further Information. Ga peduli dengan tes yang lebih susah dengan semangat yang tressa gw akhirnya memutuskan untuk mencari tempat les lain di Makassar. Iya, penempatan gw kerja pertama kali adalah di Makassar. Lagi asik mencari tempat les, gw malah dapat kabar dipindahin ke Balikpapan. Kembali, ekspektasi mengalahkan realita. Balikpapan yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia Timur tidak memiliki fasilitas lengkap seperti Makassar. Sempet mau nyerah karena selalu diarahkan ke “jalan buntu”. Padahal terkadang di “jalan buntu” tidak seutuhnya buntu atau tidak ada jalan keluar. Karena jika kita ga menemukan jalan keluar, maka buatlah jalan tersebut.

Perjuangan menggapai cita-cita belum berakhir, masih banyak kisah hingga status gw saat ini resmi sebagai salah satu mahasiswa perguruan tinggi negeri di Negeri Paman SAM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s