My Love, My Journey, My Adventure.

berbicara tentang cinta, gw merasa hal itu layaknya trip atau travelling. kenapa? karena cinta merupakan bagian dari hidup dan hidup merupakan perjalanan bukan sebuah tujuan.
untuk urusan trip atau travelling, jangan tanya gw, disuruh beli gula di warung sebelah aja gw minta temenin pembantu gw. takut nyasar?bukan-bukan, gw takut ada yang nyulik. kasian enyak babe gw, susah buat anak macam gw gini.

kali ini gw mau sedikit membicarakan 3 hal yang gw tulis sebagai judul, cinta, perjalanan, serta petualangan.

sebagai seorang traveller kacangan, gw sebenernya bukan orang yang pantas buat dijadiin bahan tanya jawab tentang trip apalagi backpacker. gimana ceritanya backpack kalo ke Bandung 2 hari 1 malam aja gw bawa koper segede kulkas. so, yang mau gw ceritain disini adalah tentang sudut pandang yang gw alami selama gw travel atau trip sendirian.

banyak yang bilang, lo belum jadi traveller kalo belum pernah trip atau travel sendirian. entah itu cuma di dalam kota, keluar kota, dalam negeri bahkan luar negeri.
trip sendiri itu, ya semua sendiri. ga ada temen trip, ga ada sesuatu yang bisa diandalkan deh. simpelnya sih, kalo lagi butuh duit ya ga ada yang bisa diutangin.

intermezzo sedikit untuk membahas apa itu solo trip (menurut sudut pandang gw). solo trip itu trip sendirian. sendirian yang berarti lo ga akan punya temen trip mulai lo melangkahkan kaki keluar rumah, sampai di tempat tujuan dan balik lagi ke rumah. tapi biasanya sih, orang-orang solo trip itu akan mendapatkan teman pada saat sedang perjalanan menuju tempat tujuan atau pada saat udah sampai di tempat tujuan dan bahkan bisa bertemu pada saat perjalanan pulang.
intinya ga perlu takut deh buat solo trip. selama lo masih bisa ngomong bahasa manusia, ga sulit kok buat nemuin partner-in-trip atau lebih gaul dengan sebutan “teman senasib”.

back to topic.
sebagai anak mami dan anak rumahan garis keras, gw bukanlah tipe cowo petualang yang tanpa sepengetahuan orang rumah tiba-tiba gw udah ada di hutan irian. atau tiba-tiba gw udah berada di puncak gunung himalaya. tapi makin ke sini gw mikir, idup gw gini-gini aja deh, perlu sesuatu yang fresh nih *sa’elah*
akhirnya atas izin nyokap bokap (itupun udah dimandiin kembang 7 rupa), gw akan pergi sendirian atau solo trip untuk pertama kalinya. tanpa nyokap, bokap, adek, apalagi pembantu gw.
ya namanya anak rumahan garis keras, kala itu gw tetep minta ongkosin sih walau pas-pas-an. :p

kebetulan, solo trip pertama gw, gw pergi ke daerah yang cukup jauh dan membutuhkan transportasi bernama pesawat. setelah dianter nyokap sama adek gw dan nangis-nangisan perpisahan, akhirnya pesawat gw take off dari bandara ‘Presiden-serta-Wakil-Presiden-Pertama-Indonesia’. ga cukup lama gw melayang di udara tapi cukup membuat bokong gw yang udah tepos ini makin tepos.

akhirnya gw sampai di daerah tertentu di muka bumi ini.
excited? Jelas banget. bangga? iya-lah, solo trip pertama. bingung? SANGAT!.
alasan gw bingung disini adalah karena daerah yang gw kunjungin merupakan daerah yang memiliki bahasa lokal tersendiri dan secara kebetulan gw “belum” bisa bahasa lokalnya. bersyukur di daerah itu ada orang yang bisa gw ajak bicara karena dia bisa bahasa interlokal atau bahasa umum masyarakat di muka bumi ini.

dari sini, gw mulai merasakan yang namanya sebuah petualangan. mencari sesuatu yang bisa membuat gw bertahan hidup. bertahan hidup bukan berarti gw cuma harus mencari asupan perut. tapi gw harus mencari asupan sosial juga, kalo bisa sih malah asupan hati #eh.
bagi gw yang traveller kacangan, bukan hal mudah untuk mau mendekati dan belajar bahasa lokal awalnya. pemikiran takut digigit sama orang asing masih menempel erat dibenak gw.jadi boro-boro asupan hati, asupan perut pun gw susah mendapatkannya karena gw harus berbicara bahasa lokal kalo ingin membeli makanan.

hari pertama gw lewatin dengan aman karena si orang lokal yang gw temui di airport bersedia menemani gw untuk mengenalkan tentang daerah itu. tapi untuk hari selanjutnya gw harus bisa survive sendirian.

di hari berikutnya, perut gw memaksa gw untuk segera mencari asupan. daripada gw harus makan orang lokal, gw memutuskan mencari warung atau toko klontong. setelah ketemu dan dengan modal keberanian, akhirnya gw memasuki toko klontong tersebut untuk beli camilan.
as always, selalu inget dengan quote “gunakanlah bahasa tarzan jikalau kita tidak bisa berbahasa lokal suatu daerah”. dengan bahasa tarzan yang juga seadanya gw mendapatkan 2 bungkus coklat dan satu botol air mineral dari toko tersebut. YEAY!masalah perut kelar.

eits, tidak hanya berakhir dengan kesulitan berkomunikasi. letak yang cukup jauh antara tempat penginapan dan pusat kota membuat gw kebingungan untuk bisa pulang ke penginapan. (alasan gw mengambil penginapan yang jauh dari pusat kota, karena biasanya makin jauh dari pusat kota harga yang ditawarkan makin murah).
bersyukur, daerah yang gw singgahi ga primitif banget, masih ada 1-2 mobil macam angkot kalo di Jakarta. yang jadi masalah sebenarnya adalah, supir-supir angkot tersebut ga ngerti bahasa selain bahasa lokal. Untuk jelasin air mineral dengan bahasa tarzan sih gampang, lah kalo jelasin alamat pake bahasa tarzan(?) seminggu juga ga akan kelar.
cara ngatasinnya, ya gw menyebutkan nama tempat penginapan. entah apa yang diomongin sama si supir, kalo dia ngajak gw bicara gw cuma jawab dengan nama penginapan.
setelah melewati 2 tikungan dan satu jalan lurus, akhirnya sampailah gw di penginapan dan mengistirahatkan badan. at least, gw jadi tau caranya bolak-balik pusat kota ke tempat penginapan.

seminggu lebih 2 jam, gw bisa bertahan hidup di daerah itu, walopun selama seminggu itu juga gw makan makanan dengan jenis yang sama dan di toko yang sama pula. maklum belum bisa move on. bukan curhat

seperti yang gw bilang sebelumnya, saat solo trip, kita pasti akan haus sosial. maksudnya, gw butuh teman untuk ngobrol untuk sharing cost pengalaman, atau hanya sekedar minjem duit. lagi-lagi modal keberanian, gw berburu manusia, bukan untuk dimakan, tapi untuk dijadikan teman ngobrol. kalo bisa lebih dari temen ya sukur #eh.
mata gw yang lagi nyari “kambing ilang” teman ngobrol, mungkin bagi orang lokal gw terlihat seperti pemerkosa yang lagi nyari mangsa (kebetulan yang gw perhatiin selalu sosok wanita sih) :p

nyerah.
karena setelah 1 jam berkeliling di pusat kota, gw ga nemuin ‘teman ngobrol’. gw akhirnya memutuskan untuk duduk santai di taman kota. lagi asik duduk dan mengkhayal yang aneh-aneh, gw melihat sesosok wanita yang familiarfamiliar disini maksudnya dia ga berpakaian layaknya orang lokal, dia lebih ke cara berpakaian seorang traveller. kebetulan dia berdiri di dekat tempat gw duduk. seketika dia menengok ke arah gw, tanpa basa-basi gw nyeletuk “Jakarta?”, hening yang cukup lama dan disambut dengan kalimat “iya, lo juga?”. AMAZIIING!!. seperti bertemu malaikat dikobaran api neraka. seperti bertemu sumber mata air di tengah gurun pasir. #lebay

ga butuh waktu lama untuk akhirnya kita saling ngobrol dan tukar informasi.

satu hal yang gw alami dan gw tarik kesimpulan. setidak asiknya orang yang kita temui di trip, setidak cantik atau ganteng nya orang tersebut. pasti kita akan melihat orang itu sempurna. layaknya lo ketemu air di gurun pasir. mau air itu ga enak rasanya, tapi pasti akan lo minum sebanyak-banyaknya dan akan lo syukuri di awal, walau pada akhirnya, setelah puas terkadang kita akan tersadar bahwa sebenernya air itu ga enak. sama kayak wanita yang gw temui ini, terlihat manis. tapi apakah manisnya itu sementara karena gw terlalu excited bertemu “teman ngobrol” atau memang manis sesungguhnya? #beaware

masalah perut udah, masalah sosial udah, yang belum? iya, masalah hati.
masalah yang sangat sulit dilewati terutama bagi gw yang masih itungannya ABG labil-yang-kalo-liat-lebih-cantik-dikit-langsung-ngiler.

kenapa ditulisan ini gw mengangkat masalah hati? karena ga sedikit juga orang/pasangan traveller yang terjadi akibat pertemuan ga sengaja layaknya gw ketemu wanita tadi.
pasangan itu saling suka karena mungkin awalnya disebabkan kesamaan nasib. nasib jauh dari kampung halaman, nasib jauh dari keluarga dan yang terlebih parah adalah nasib jauh dari pacar #bukancurhat
orang yang traveller banget pasti akan memilih mengunjungi tempat-tempat yang jarang terjamah masyarakat pada umumnya. hal itu menyebabkan mereka sulit berkomunikasi dengan keluarga atau pacar yang terkadang, bagi traveller yang masih labil akan sangat mudah tertarik dengan orang yang baru semenit berkenalan.

kembali lagi ke masalah gw. masalah yang belum terpenuhi, masalah hati.

setelah menilik info, ternyata si wanita yang gw ketemu sebelumnya akan stay di daerah itu kurang lebih mirip dengan gw, gw seminggu lebih dulu pulang ke kampung halaman gw yakni Jakarta.
merasa sebagai temen satu ngobrol satu-satunya yang gw punya, entah, gw jadi melihat banyak persamaan atau lebih tepatnya cocok dengan wanita itu. gw merasa dia pun seperti itu, dia cocok sama gw, geer. walopun di-awal mempunyai itenary yang berbeda, kita berdua malah memutuskan untuk saling “menemani”. alasan klise-nya ‘takut nyasar’ (nice try,dii)

karena berbeda tempat penginapan dan memang mempunyai itenary yang berbeda, terkadang gw ga travelling sama dia. tapi kita lebih intens bertemunya walau hanya sekedar ketemu pas makan malem.
hari demi hari berlalu, obrolan kita berdua juga udah masuk ke hal-hal pribadi.
dan gw melihat, wanita yang hobi travelling lebih ekspresif dibanding yang engga. dia sangat nunjukkin kalo dia tertarik sama gw bukangeer
waktu yang cukup lama membuat gw menjadi sangat intim. seperti ter-isolir dengan dunia luar. gw seperti menikmati waktu bersamanya. hingga akhirnya gw harus pulang lebih dulu.
awalnya dia bilang ke gw supaya me-reschedule jadwal penerbangan gw. tapi karena gw harus kembali bekerja, gw memutuskan untuk tidak mengganti jadwal dan semacam berjanji kepada wanita itu bahwa kita akan lebih sering ketemu di Jakarta. dia pun meng-iya-kan.

nasib berkata lain, secara permasalahan yang terjadi di tempat trip gw, semua sudah terpenuhi. tetapi saat gw kembali ke rutinitas, justru masalah kembali muncul. gw dan dia malah jadi ga bisa bertemu, karena gw sibuk bekerja dan dia sibuk kuliah.
janji pertemuan yang selalu tidak match malah membuat keputusan dari kita berdua untuk tidak saling bertemu lagi dan bertindak layaknya stranger.
berharap seperti traveller lain yang berakhir di pelaminan, gw malah berakhir dengan seperti ini.

sebuah pengalaman yang ga akan pernah terlupakan. tapi dari situ gw mengambil pelajaran tentang quote yang berbunyi
“apa yang terjadi di puncak gunung biarkanlah tertinggal di puncak gunung”.
gw menarik kesimpulannya adalah apa yang terjadi selama kita trip ya biarkanlah tertinggal di tempat trip dan akan menjadi kenangan yang tak terlupakan ketika kita akan balik ke tempat yang sama suatu hari nanti.🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s