Harapan dikala mendung

matahari mulai terbit.

sinarnya cukup membuat hangat sebuah desa terpencil di kaki gunung semeru. bersamaan dengan sinar mentari mulai terdengar lagu yang ditimbulkan oleh burung-burung kecil beserta ayam yang bertugas untuk membangunkan orang di desa itu tiap harinya.

zaki, terlahir di keluarga yang cukup sederhana di desa tersebut. tidak seperti anak-anak lainnya, zaki terlahir dengan sedikit kecacatan pada tubuhnya. pendengarannya sedikit terganggu akibat terjadi kerusakan pada syaraf di otaknya.

pagi itu merupakan hari dimana zaki akan mendaftar di sebuah sekolah dasar pagi desa sukarejo. dengan semangat ia membangunkan ayah ibunya yang dikala itu masih tertidur lelap. “Bu, Pak, Bangun!Zaki mau sekolah”, ucap zaki dengan riang. sang ibu yang terkaget mendengar teriakan anaknya langsung menjawab “Iya nak, ibu sudah bangun, cepatlah kamu mandi, nanti telat ke sekolahnya”, akan tetapi karena zaki tidak mendengar jelas teriakan dari sang ibu, ia terus saja berteriak di depan kamar orang tuanya tanpa menghiraukan suruhan ibunya untuk segera mandi.

tak lama sang ibu membuka pintu kamarnya dan melihat zaki yang sangat riang sekali dengan muka tersenyum. “mandi nak, nanti ibu siapkan sarapan”, sesaat setelah sang ibu berbicara lembut kepada anaknya, zaki yang sedikit mendengar akan kata mandi serta sarapan langsung terbirit-birit lari menuju kamar mandi.

dengan memakai baju kemeja untuk anak serta celana pendek, zaki dengan lahap menyantap makanan yang telah disediakan ibunya. sederhana, hanya sepiring nasi ditambah telur mata sapi serta teh manis hangat. bagi zaki, itu merupakan masakan terenak yang pernah ia rasakan selama ini. ia terlalu bersemangat sehingga lupa bahwa makanan yang ia makan kali ini tidak ada bedanya dengan makanan di hari-hari sebelumnya.

setelah menyantap sarapan dan sang ibu juga telah siap, mereka berdua berjalan menuju ke sekolah yang jaraknya 10 kilometer dari tempat tinggal mereka. di sepanjang perjalanan zaki terus bernyanyi, meloncat dengan riang. ia sudah membayangkan hari pertama sekolah, bertemu dengan teman baru, guru, dan akan mempunyai beberapa buku baru.

tak lama, mereka pun sampai di sekolah dan langsung menuju ke sebuah ruang yang di depan pintunya di tempel sebuah kertas bertuliskan “Tempat Pendaftaran Siswa Baru”.
kemudian zaki beserta ibunya duduk di bangku yang telah disediakan oleh pihak sekolah untuk menunggu giliran.

akhirnya tiba dimana zaki dan sang ibu maju ke meja pendaftaran untuk mendaftarkan diri. setelah dilakukan sesi wawancara dan beberapa tes untuk zaki, pihak sekolah agak sedikit ragu untuk memutuskan apakah zaki mampu untuk bisa duduk di bangku sekolah ini minggu depan dikarenakan umurnya yang masih 5 tahun serta kemampuan baca tulis zaki yang masih dibawah rata-rata anak seumurannya disaat itu. mengetahui hal tersebut, sang ibu langsung memohon kepada pihak sekolah untuk menerima anaknya. dengan berbisik, sang ibu meminta kepada pihak sekolah untuk mempertimbangkan lagi, sang ibu memberikan jaminan bahwa anaknya nanti akan sukses di sekolah tersebut walaupun anaknya memiliki cacat. zaki yang melihat tingkah ibu serta pihak sekolah berbicara secara perlahan merasa bingung dan aneh. untuk mencegah sang anak mencurigai tingkahnya, sang ibu pun segera menyudahi pernegosiasian terhadap pihak sekolah yang berakhir dengan kesimpulan, kalau ada uang ‘lebih’ untuk administrasi maka pihak sekolah akan memasukkan zaki dalam list siswa baru.

akhirnya zaki dan ibunya pulang tanpa membawa hasil yang diinginkan. sepanjang perjalanan zaki terus bertanya “minggu depan zaki sekolah kan bu?zaki bisa sekolah kan?”, dengan lembut ibunya menjawab “bisa nak” sambil tersenyum. tetapi dibalik senyuman sang ibu terdapat kekhawatiran akan cara untuk mendapatkan uang lebih agar bisa memasukkan zaki ke sekolah.

sang ibu memutuskan untuk berbicara kepada suaminya tentang permasalahan yang zaki dan ia alami selama di sekolah. betapa terkejutnya sang bapak mendengar bahwa mereka harus membayar lebih jika anaknya ingin bersekolah.
hingga larut malam disaat zaki sudah tertidur, bapak dan ibu terus berpikir bagaimana cara mendapatkan uang yang dibutuhkan untuk membiayai anaknya bersekolah. ketika sedang asik berbicara di ruang tengah rumah mereka yang sederhana, mata bapak tiba-tiba menuju sebuah tv tua yang berada di ruang tersebut dan terpikirkan sebuah ide agar anaknya tetap bisa bersekolah minggu depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s