ego.

Selamat Pagi dan salam Olahraga!

sebelum nulis, gw mau bilang ALHAMDULILLAH, i got my bachelor’s degree🙂 perjuangan selama 4 tahun terbayar sudah. naik turun, asam manis di kampus udah gw rasakan, mulai dari fase sangat seneng dan sangat sedih yang membuat gw ingin bunuh diri.

pada tulisan ini gw sedikit ingin berbagi pengalaman tentang sebuah ke-egoisan diri gw, terutama selama gw menuntut ilmu disalah satu perguruan tinggi swasta di bilangan Bandung.

kuliah, awalnya gw merasa dibangku kuliah merupakan tempat untuk mendapatkan teori relativitas akan seorang mahasiwa yang tertidur di kelas ataupun probabilitas mahasiswa akan dateng ke kelas pada saat musim hujan, tapi nyatanya engga sama sekali, makin mendekati kelulusan justru yang gw dpt bukanlah hanya sekedar teori relativitas ataupun probabilitas, gw mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga di bangku kuliah karena menurut gw universitas merupakan tempat nyaman terakhir sebelum lo masuk ke hutan belantara kehidupan. tsah.

jujur gw merupakan tipe anak yang pendiem, tenang seperti air, makanya gw keterima kuliah yang kampusnya dipinggir sawah. tipe anak pemalu yang malu-maluin sih. selain itu juga gw merupakan orang yang sedikit keras kepala, jadi untuk menanganinya terkadang kepala gw harus diketok palu dulu baru agak bener. karena beberapa hal, gw juga menjadi bersikeras buat meng-achieve cita-cita gw. ga peduli berapa jalan atau cara yang harus gw lakukan, gw akan terus berusaha dengan giat dan sungguh. kesan pertama, gw melihat diri gw sebagai orang yang pekerja keras tapi setelah ditelaah lebih lanjut, semuanya salah, gw bukan tipe orang yang seperti itu ternyata, kerjakeras merupakan pencitraan dari diri gw aja, diri gw sebenernya adalah Orang yang Egois.

egois. egois dalam artian gw ingin membuat orang-orang dilingkungan seneng dan bangga sama gw dan ga mempedulikan diri gw yang makin sakit. gw lebih memilih diri gw yang sakit daripada orang lain. gw terlalu takut kehilangan orang-orang disekeliling gw. gw ga bisa untuk ‘open minded’ dan ‘open eyes’ dengan orang baru.

dalam kasus disini, gw ga bisa ‘open eyes’ bukan karena gw sipit ya.

jadi gw takut berkenalan dengan orang baru, takut menunjukkan siapa sih diri gw sebenernya ke orang baru. itu yang membuat gw terus ‘keep’ semua orang yang sekarang udah berada dilingkungan gw. padahal ga semua orang akan meninggalkan lo pada saat lo jahat. ibaratnya, maling dan pembunuh aja masih punya temen, ya kenapa gw juga harus takut kehilangan orang orang disekeliling gw saat ini. orang itu akan lebih baik menjadi dirinya sendiri, jangan terlalu berlindung dibalik topeng manisnya. kalo emang orang-orang disekitar lo peduli lo,sayang sama lo, mereka ga akan meninggalkan lo gitu aja tanpa sebuah alasan koq🙂

butuh waktu 4 tahun bahkan lebih dan pengalaman yang tidak sedikit untuk mengetahui siapa diri lo sebenernya. pengalaman yang didapat pun bukan pengalaman yang manis aja bahkan pengalaman terpahit harus lo rasakan untuk bisa tau siapa diri lo sebenernya. saat ini pun gw merasa masih kurang tau siapa diri gw sebenernya. ini baru satu sifat dari sekian banyak sifat gw yang gw miliki.

banyak pengalaman ke-egois-an gw yang telah gw lewati smp akhirnya gw ngeh dan menyadari kalo gw itu ternyata orangnya egois.

pertama kalinya gw merasa egois adalah ketika gw duduk di tahun ketiga bangku SMA dan ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. ada satu PTN favorit yang memang ingin gw capai,ingin rasanya duduk dan menuntut ilmu dibangku kuliah PTN tersebut. berbagai cara gw lakukan. duit gw hamburkan hanya untuk memperoleh atau diterima sebagai mahasiswa PTN tersebut. 4 kali mencoba dan gagal semua. sedih dan merasa sudah berkorban banyak yang bisa buat gw menghentikan percobaan itu.
karena sudah mendekati waktu taun ajaran baru, dengan sangat terpaksa gw mengikuti tes masuk PTS kampus yang sekarang gw duduki serta PTN favorit lainnya yang gw agak kurang tertarik kesana. bermodal nothing to loose dan pemikiran akan menganggur selama satu taun kalo gw ga dpt kuliah,akhirnya gw jalani tes itu. sungguh kekuasaan Tuhan, gw lulus di 2 tes tersebut, gw keterima di PTS favorit dan PTN favorit. shock bukan main dikala itu, gw ga prepare apa-apa dan keterima, padahal diujian PTN sebelumnya gw sungguh sangat mempersiapkan dan gagal.

keterima, seneng dan bangga, akan tetapi tetep, dikala itu gw menyalahkan orang tua gw karena tidak mendoakan gw untuk keterima di PTN yang gw inginkan. gw anak durhaka.😐

dengan hasil tersebut gw memutuskan untuk mengambil PTS yang ada dibilangan Bandung, karena PTN yang gw keterima juga itu ada dibilangan Jakarta dan ada beberapa alasan juga yang menyebabkan gw memutuskan untuk kuliah di Bandung.

disatu sisi gw memang gagal membuat (beberapa) orang seneng dengan pencapaian gw untuk bisa duduk dibangku PTS ini, tapi di dunia luar sana, outside my comfort zone lebih banyak lagi orang yang bangga dan seneng dengan pencapaian gw, banyak yang iri sama gw padahal gw merasa masuk PTS ini ya biasa aja, gw merasa (diawal) ga ada yang bisa dibanggain dengan masuk PTS ini. tapi nyatanya?. ya, gw terlalu menutup diri gw dikala itu, gw terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman yang terkadang diluar sana tidak sejahat dan sekejam yang lo kira, asal lo bisa menempatkan posisi dan berusaha untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda.

sebuah quote dari salah satu akun twitter yang membuat gw sedikit percaya dengan sifat gw egois yang ingin membuat orang disekitar gw seneng.

 

pelajaran yang gw ambil adalah Jangan terlalu takut untuk keluar dari comfort zone selama kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda dunia luar pun akan terasa bagaikan comfort zone🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s