Indonesiaku, Bandungku, dimata Dunia

Beberapa hari yang lalu, gw sempet dateng ke sebuah acara dari sebuah Organisasi Anak Muda Dunia (AIESEC) yang diadain di Institut Manajemen Telkom, Dayeuh Kolot. acara itu membahas tentang apa itu AIESEC serta pengalaman-pengalaman Exchange dari beberapa orang member AIESEC. banyak kalangan dari background  yang berbeda beda, mulai dari mahasiswa hingga perwakilan Direktur Utama Yayasan Pendidikan Telkom, karena organisasi ini bersifat multinasional maka sudah bisa dipastikan jika ada sebuah event akan ada foreigners yang akan datang di acara tersebut dan kebetulan disitu datang 4 foreigner dari 4 negara berbeda.

sebelum berbicara ke 4 foreigner, gw sempet dikasih tau sama temen gw, mulai dari nama dan negara mereka, 4 orang tersebut ada Vito dari Moldova, Erin dari Korea, Phon dari Taiwan dan Edy dari Jerman. seketikan temen gw ngasih tau kalo si edy itu adalah Islam. cukup kaget karena baru kali ini melihat bule yang tidak ‘terlihat’ seperti seorang muslim dan ternyata ia muslim. Awesome!

ketika acara sedang berlangsung dengan penuh keceriaan, gw melihat ke 4 foreigner tadi sedang ada dibelakang barisan penonton untuk mempersiapkan sesi mereka untuk berbagi pengalaman dan berpendapat tentang Indonesia, khususnya Bandung. melihat kesempatan untuk mengenal lebih jauh, gw memberanikan diri untuk berkenalan walaupun kemampuan conversation gw masih dibawah rata-rata. awalnya gw berkenalan dengan Vito,dilanjut Erin, Phon dan berlabuh di Edy. (pelabuhan kali si Edy).

akhirnya, gw berkenalan dan memberanikan diri untuk bertanya “Are you Moslem?” terus dia jawab “yaa.. :)” cool! seorang bule dari jerman dan dia adalah muslim dimana agama muslim di daerah eropa merupakan agama minoritas. setelah bertanya tentang bagaimana kehidupan di jerman dan khususnya orang muslim, sampai pada pertanyaan tentang “Are you enjoy in Bandung?”, kemudian dia bilang kalau disini itu lebih hangat dibanding di Jerman. Padahal bagi gw,terkadang di daerah Dago udah dingin banget, eh dia bilang disini hangat. kembali lagi gw bertanya masalah tingkat keramaian, dia bilang Bandung itu ramai, macet, dan tidak teratur. motor lewat di trotoar, pengemudi menerobos lampu lalu lintas. sungguh berbeda dengan jerman, walaupun disana ada kemacetan akan tetapi mereka macet dalam keadaan teratur, terorganisir, sehingga orang pun akan merasa cukup nyaman dengan kemacetan yang ada. Edy bilang, saat macet pun, di Bandung terlalu berisik, banyak suara klakson, saling tidak sabar, dan polusi yang berlebihan, menurut dia itu membuat lingkungan menjadi ga sehat. Gw akui, sebagai orang yang berdomisili di Bandung, Indonesia, kemacetan disini itu terkadang membuat jengkel, orang orang yang ga sabar, menerobos lampu lalu lintas yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

setelah berbicara cukup lama, dengan bahasa inggris yang tiba-tiba jadi lancar, akhirnya giliran 4 foreigner tadi untuk sharing pengalaman mereka. awalnya mereka berkomentar masalah yang terlihat jelek, tanpa disangka mereka sharing masalah keadaan lalu lintas di bandung. mereka terkadang bingung dengan tingkah para pengguna jalan, disaar lampu lalu lintas menunjukkan warna merah malah para pengguna jalan khususnya pengendara motor atau mobil justru menjalankan kendaraannya dan itu membuat mereka foreigner harus ekstra hati hati dikala menyebrang bahkan ada salah satu foreigner yang nyaris tertabrak karena ketika mereka menyebrang disaat lampu lalu lintas berwarna merah ada kendaraan yang menerobos. mereka juga berkomentar tentang banyak penjual di trotoar yang mengambil lahan pejalan kaki. menurut mereka itu sungguh mengganggu. yang paling memalukan adalah tingkah orang Indonesia yang mau mengambil video kamera dari salah satu foreigner ketika ia sedang berjalan-jalan di daerah Pasar Baru, Bandung. cukup dengan 4 foreigner bisa mengakibatkan Indonesia jelek di mata dunia.

tapi dibalik semua itu, mereka ( 4 foreigner) sangat senang berada di Indonesia, karena kita warga Indonesia ramah dan friendly. saking friendly nya sampai barang orang lain pun diambil tanpa perlu ijin dari yang punya :p
sikap kita terhadap lingkungan sekitar mungkin masih tertutupi dengan sifat kita yang ramah, tapi apakah dunia akan melihat satu persatu sifat orang Indonesia? dunia hanya melihat sikap kita terlebih lagi terhadap lingkungan, karena sikap merupakan sesuatu yang bisa dilihat langsung tanpa harus mengenal lebih jauh (menurut gw) dan bagi dunia sikap kita terhadap lingkungan dengan adanya cerita atau kasus pelanggaran pelanggaran kecil yang terjadi masih bisa dibilang sangat memprihatinkan.

semoga dengan adanya masukan seperti ini, para anak muda Indonesia menjadi terinspirasi untuk perlahan merubah Indonesia menjadi lebih baik, khususnya untuk diri gw untuk bisa merubah attitude gw untuk lebih baik terhadap lingkungan sekitar.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s