Perjalanan #2

kisah ini akan melanjutkan cerita perjalanan gw di ‘pesantren’. kisah yang makin absurd dan makin membuat bahwa gw tuh agak kurang cocok berada di ‘pesantren’ ini.

dengan seragam yang makin terlihat (dari luar) seperti anak pesantren, celana panjang biru, baju kemeja lengan pendek putih + terkadang make kopiah. dan sekali lagi gw tekankan “jangan melihat atau menilai sebuah buku hanya dari covernya”

memasukin jenjang Menengah Pertama, gw mulai canggung,ragu,dan takut. gw sekarang lebih tidak yakin dengan keadaan bahwa sekolah yang gw tempati merupakan sebuah ‘pesantren’. pengalaman hari pertama, gw lebih bisa bilang kalo sekolah gw lebih disebut sebagai pasar dibanding ‘pesantren’. kenapa?karena muka teman-teman gw sekarang lebih cocok dipanggil sebagai preman dibanding pak ustadz,walaupun dari segi pakaian udah hampir bisa dibilang sebagai ustadz junior. image tentang pesantren akan hancur seketika kalo lw liat kondisi yang terjadi di dalem kelas. anggapan orang yang kalo istirahat mereka akan melaksanakan shalat dhuha / tadarus di mesjid, tapi yang teman-teman gw lakukan termasuk gw adalah bermain digimon-digimon-an. bermodal penggaris 30cm serta topeng-topengan yang terbuat dari kertas, kita bersandiwara layaknya film digimon dikala itu. berkhayal memiliki jurus-jurus aneh. yang agak sedikit gw bingung, koq gw bersama teman-teman gw ga sadar umur ya?kalo ada sekumpulan anak SD lewat ruang depan kelas gw, pasti mereka akan bilang “iih,muka tua tapi main perang-perangan, pake penggaris plastik lagi”. saat itu juga image kedewasaan gw hilang seketika terbawa angin.

pada saat masih belajar di Madrasah Tsanawiyah (sebutan lain untuk SMP dan setara), gw mengikuti sebuah ekstrakulikuler yang bernama PASKHAND atau Pasukan Khusus Andalan. kalo sekilas melihat namanya pasti mikirnya orang yang masuk disitu adalah orang-orang terpilih yang jenius,serba bisa, dan ganteng, ekspektasi selalu saja berlebihan, sebenernya yang masuk ekstrakulikuler ini merupakan orang yang beruntung. beruntung karena lw bisa ngadem dibawah pohon disaat orang berpanas2an upacara bendera, bahkan lw bisa tidur di kelas dengan AC pada saat itu. lw bisa dengan semena-mena mencatat nama siswa yang bandel atau mengobrol saat upacara bendera. di PASKHAND ini lw bagaikan raja yang semuanya tunduk dan ga ada yang berani nentang lw, kecuali guru ataupun senior PASKHAND lw. tapi dibalik kegilaan dan keangkuhan itu pasti ada ‘penyiksaan’. latihan Baris -Berbaris serta hal-hal mendasar tentang pramuka akan dilakukan setiap sabtu sore dan jika terjadi kesalahan maka akan disuruh untuk push-up sebanyak 10 kali, sedikit?memang. tapi latian yang cukup memakan waktu, menguras tenaga, akan membuat konsentrasi menjadi pecah sehingga melakukan kesalahan lebih banyak dan sudah tentu akan menerima hukuman push-up lebih banyak.

bagi gw masuk PASKHAND bukan hanya sebuah anugrah yang indah, tp juga merupakan sebuah musibah dimana gw dibuat malu di ekstrakulikuler ini. pada suatu kegiatan setelah bermandikan lumpur a.k.a merayap diatas lumpur, gw dibuat malu, karena saking gw kurusnya dan berat celana jeans yang gw gunakan menjadi lebih disebabkan banyaknya lumpur smp gw tidak menyadari kalo celana gw udah melorot se-paha, hal tersebut tentunya ga cuma diliat sama temen cowo gw doank,tapi sama temen cewe gw juga. Mulai detik itu, ada yang berkurang dari hidup gw. urat malu gw udah ga nyambung lagi dengan tulang belakang serta otak.😐

disamping tingkah laku yang kurang mencerminkan anak pesantren, gw selalu membanggakan kecepatan menghafal gw, terutama yang menggunakan tulisan arab. untuk ujian akhir sebelum lulus dari ‘pesantren’, setiap siswa diwajibkan menghafal 99 nama Allah yang biasanya dilantunkan ketika baru masuk jam pelajaran selama setengah jam. entah, dengan kekuatan superganatural, gw maju lebih dulu untuk di uji dengan sukses 100%. cukup ada yang bisa dibanggakan untuk lulus dari sekolah ini.

tapi ternyata hanya berbekal hal seperti itu tidak cukup, utk mendapatkan SMA Negeri yang dicita-citakan, gw harus berjuang untuk mendapat NEM setinggi-tingginya pada Ujian Nasional. agak sedikit mengecewakan, walaupun hasil akhirnya sudah cukup baik tapi tidak mencukupi untuk melanjutkan ke SMA Negeri dambaan sehingga dengan berbesar hati diterima di SMA Negeri yang kurang diprioritaskan. Sedikit pelajaran yang diambil dari pengalaman ini adalah, Janganlah Terlalu Meremehkan Sesuatu Hal Karena Alasan Apapun.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s