Perjalanan #1

tulisan yang dipersembahkan untuk diri gw, mengenang masa muda dulu, ketika ingus gw masih meler kemana-mana, ketika pipis pun tidak pada tempatnya, dan ketika gw masih seneng2nya dengan makhluk aneh bernama Teletubbies.

ga kerasa sekarang udah ada di penghujung tahun 2011 dan itu berarti gw udah melewati masa-masa manis, pait, asin nya kehidupan selama 21 tahun. (sok asik ya bahasa gw).

balik lagi, sebenernya disini gw mau bahas kisah kasih semasa sekolah. kalo yang pada umumnya bocah, anak, remaja itu hanya melewati 4 fase, gw melewati 5 fase. gw ingetin, gw masih masih manusia biasa bukan koala jadi-jadian yang dalam masa hidupnya harus melewati beberapa fase. maksud fase disini adalah Sekolah, tempat meniti ilmu untuk menjadi manusia berguna yang tidak hanya galau di depan laptop memperhatikan foto seseorang yang ia kagumi. perjalan yang terdiri dari banyak cerita yang patut dikenang. dari menemukan cinta pertama (saelah) smp menemukan judul Tugas Akhir. perjalanan panjang yang gw ceritakan mulai dari gw menginjakkan diri di Sekolah Dasar.

lahir di bulan oktober tidaklah seindah yang dibayangkan, walaupun Sumpah Pemuda dikumandangkan pada bulan Oktober. menuju masa-masa penerimaan mahasiswa baru, udah selayaknya nyokap dan bokap panik lah ya, cari sana sini, mondar sana sini cari info sekolah manakah yang mendukung untuk maju dan berkembangnya otak sang anak. (perhatian, kalimat sebelumnya bukan iklan susu). setelah berkelana dari timur hingga utara, barat hingga selatan, mencari rasi bintang yang paling indah, akhirnya bokap sama nyokap menemukan sekolah yang sekiranya cocok untuk gw, sang anak tersayang, MADRASAH. MADRASAH saudara-saudara!!! dulu, taun 90-an, kalo orang denger kata MADRASAH yang terbayang adalah lulusan situ akan jadi pak haji, muratul Quran atau jadi guru ngaji TPA lah. gw langsung berpikir, APA??!MADRASAH??!!gw yang waktu dulu baca tulisan PAK POLISI aja masih PA IPI mau didaftarin ke MADRASAH yang notabene gw harus bisa baca tulisan arab dan baca Al-Quran. perlu diketahui, sebelum masuk ke sekolah itu, Iqra pun gw belum mengenalnya. (bagi yang ga tau, Iqra itu semacam buku pengawal jika kita ingin belajar mengaji). mimpi buruk menjadi kenyataan, selain umur gw yang belum genap 6 tahun (karena lahir bulan oktober dan penerimaan siswa baru adalah bulan Juli), ketika itu syarat masuk SD adalah seorang bocah ingusan berumur 6 tahun, cara membaca gw pun masih terbata-bata, ya ibaratnya gw kyk azis gagap lah waktu disuruh baca dulu. alhasil gw hanya dijadikan sebagai anak bawang alias waiting list. bersyukur kala itu ada anak yang mengundurkan diri akibat dia mimpi jadi Guru ngaji pada saat dewasa padahal cita-cita dia ingin jadi Ustadz terkenal. karena mimpinya tidak sesuai dengan yang dia inginkan maka ia mengundurkan diri. Alhamdulillah ya, Sesuatu banget, akhirnya gw sekolah!! *loncat dari monas* *kala itu monas tingginya masih 5 cm dari atas tanah*

beruntung sekali gw masuk MADRASAH tersebut, selama sekolah disana, gw disuruh les mengaji sama nyokap, malu lah kalo lulusan MADRASAH tapi ga bisa ngaji. awal-awal sekolah terasa menyenangkan, dari main gundu, gasing, kerang balapan, dan masih rajinnya ngerjain tugas, ulangan pun tidak mengenal kata nyontek sampai akhirnya gw merasakan kejamnya dunia persekolahan. Tugas yang menumpuk, guru yang semakin hari semakin beringas, tidak ada lagi waktu bermain, hanya belajar, belajar, dan terus belajar. sesampainya di rumah langsung ngerjain tugas, malam datang pun belajar, tidur tidak lebih dari jam 9 malam, pagi sudah berangkat sekolah begitu terus looping forever hingga 6  tahun berlalu. TAPI, seperti pepatah, ekspektasi terkadang tidak sesuai dengan realita, semua yang gw jelasin hanyalah ekspektasi, realitanya adalah gw ikut banyak kegiatan, ekstrakulikuler dulu disebutnya. dari sepakbola, pramuka, les organ, dan masih banyak lagi. sudah dengan berbagai macam kegiatan, sampai di rumah belajar? TIDAK!permainan bola dilanjut dari lapangan bola di sekolah di lapangan bola deket rumah, pulang pas adzan maghrib, istirahat sebentar dan langsung nonton televisi. pandangan orang akan anak MADRASAH yang alim-alim hilang dari diri gw. *lepas sarung, lari2 keliling komplek*

Gw bilang masuk Madrasah ini seru, kenapa?karena gw menemukan cinta pertama gw!! *makin hilang pandangan orang Alim lulusan Madrasah dari diri gw*. dahulu itu masih sedikit siswa sekolahan yang punya HP (Handphone), disaat cinta bersemi yang kita kenal hanya surat2an. Pacaran, pegangan tangan, rangkul-rangkulan. semua itu hanya terjadi sekarang ini, jaman dulu jangankan pelukan, ciuman, pegangan tangan aja dulu digosipin bisa membuat si cewe hamil terus kalo kita minta minum dari cewe dan minumnya dari sedotan yang sama akan digosipin itu sebagai ciuman jarak jauh. aneh. gw pun yang lagi nulis ini mengenang masa lalu koq seperti suatu keanehan ya, atau dikala ini, pegangan tangan dan ciuman merupakan hal yang biasa. mungkin.
balik lagi ke masalah cinta pertama, sebenernya gw juga bingung, kalo dibilang cinta pertama, gw ga melihat cewe itu sebagai sesuatu yang ‘wah’ menurut gw, seinget gw pun, gw bisa pacaran sama tuh cewe, sebut saja anggi, karena dicomblangin, dan seinget gw, kita berdua dijodohin karena tingginya hampir sama. FREAK!haha. awal mulanya pun hal itu terjadi karena dulu gw sama si anggi ini merupakan teman satu jemputan dan karena kebetulan rumah kita agak berdekatan maka jadilah gw seperti dijodoh2in. klarifikasi, ini bukan cinta pertama, tapi pacar pertama mungkin ya, karena ya gw tidak melihat sebagai sesuatu yang ‘wah’. penembakan yang terjadi pun, karena di mobil anter jemput ga lewat surat, tapi lewat bisikan. agak aneh dan gaul pada saat itu. layaknya lagu dangdut yang lagi hits kala itu, setelah ‘bisik-bisik tetangga’ akhirnya gw pun dengan anggi resmi pacaran. tapi dikala suara masih cempreng, cinta bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan kepada teman sehingga tidak berjalan lama, akhirnya kita pun resmi putus. satu hal yang gw inget dan bisa gw banggakan dulu ke anggi adalah gw bisa secara tidak sengaja mengetahui jam berapa saat itu hanya dengan melihat tinggi matahari. berbekal omongan ‘Gw kan anak Pramuka’ , anggi pun percaya gw adalah dewa matahari yang dapat melihat waktu hanya melihat ketinggian matahari. mungkin kalo sekarang gw pamer dan sok-sokan menentukan waktu hanya melihat ke arah matahari gw bisa ditimpuk sendal sama temen-temen gw, entah apa alasannya.

perjalanan gw selama 6 tahun di Madrasah Pembangunan IAIN Jakarta ini, sunggug menarik, banyak pengalaman tak terlupakan, terutama kasus dimana tangan gw dingompolin sama salah satu temen gw pada saat PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu) dan gw juga pernah dingompolin pada saat lagi shalat dzuhur, entah mereka yang ga bisa tahan atau muka gw yang lebih mirip kloset. tapi untuk kasus ini jangan diceritain disini, kasian temen2 gw juga. satu yang gw banggain setelah gw lulus dari sini adalah untuk urusan menghafal Surat-Surat Juz Amma, bisa dibilang gw di atas rata2. cukup cepat. walaupun dilain sisi gw tidak akan pernah terlihat seperti anak Madrasah Alim yang sanggup menghafal beberapa surat pendek.

mungkin sekian tulisan gw untuk kali ini, kasus pertama gw ketika masuk Madrasah, sebenernya masih banyak cerita yang ingin gw ceritakan, tapi tunggu aja di Perjalanan #2 dengan kisah yang lebih ga meaning dan membuktikan bahwa tidak selalu anak lulusan Madrasah itu Alim-Alim😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s