Dari Coto Makassar ke Negeri Borneo.

Sebelum gw keterima kerja dan nyaris putus asa, bokap sempet nyaranin diri gw buat ngambil kuliah lagi. Karena motivasi dari bokap gw yang merupakan salah satu lulusan perguruan tinggi Luar Negeri (outside Indonesia), jadi didalam pikiran gw kalo mau lanjut kuliah jangan pernah ngambil di Dalam Negeri. Bagai anak kecil yang bercita-cita ke Bulan tapi ga pernah tau caranya. Gw pun disaat itu memasuki fase Anak-Kecil-Yang-Bercita-cita-Ke-Bulan. Setiap saat gw hanya bilang “aku mau kuliah di Eropa”, tanpa pernah melakukan riset gimana cara kuliah di sana. Bokap juga selalu bilang kunci untuk bisa keterima kuliah di Luar Negeri adalah second language which mean English. Tapi karena gw merasa udah 10 tahun belajar bahasa inggris (dari kelas 4 SD – Kuliah tahun ke-2), gw menggampangkan. Setiap diingetin untuk belajar Bahasa Inggris, gw selalu membuat excuse dan menyalahkan kerjaan gw yang bertumpuk. Hal itu berlanjut telama 4 bulan diawal gw bekerja. Setiap bokap nelp dia selalu mengingatkan untuk les Bahasa Inggris. Disatu sisi, tekanan bos gw dimasa probation juga membuat gw berpikir untuk resign. Well, gw manja karena bos gw wanita.  If you know what I mean. Akhirnya, setelah berjuang keras di masa probation yang berlangsung selama 3 bulan dan 1 bulan recovery, dibulan ke-5 gw memutuskan untuk mendaftar les Bahasa Inggris yang ga begitu jauh dari kosan.

Semacam anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru dari orangtuanya, di seminggu pertama gw dengan bangga menjalani les. Tanpa ada beban dan selalu menunda pekerjaan kantor dengan alasan mau les Bahasa Inggris. Sayang hal tersebut ga akan bertahan lama. Semangat goyah ketika hujan deras setengah jam sebelum kelas Bahasa Inggris dimulai. Bukan karena takut dengan air, tapi gw gamau pakaian gw basah ketika les. Selain itu masalahnya selanjutnya adalah gw benci membawa payung. Gw emang naik motor (pinjeman) sih jadi ga mungkin gw naik motor sambil pake payung. Jas ujan? Ada sih tapi ribet makenya. Intinya? Gw malas. Iya malas. Penyakit Malas gw kambuh. Penyakit yang susah disembuhkan kalo ga ada motivasi yang kuat.

Perjuangan dan pertarungan batin sih. Disatu sisi gw mau cita-cita gw untuk bisa kuliah di Eropa tercapai, akan tetapi disisi lain cuaca yang tidak bersahabat dan mendukung cita-cita gw. Belum lagi gw aktif banget orangnya. Seneng bersosialisasi dengan orang baru supaya punya temen walau gw orang Introvert. Jadi kadang kalo lagi ga ada kerjaan di kantor gw lebih memilih kumpul dengan temen-temen untuk street workout bareng. Setelah itu baru kelas Bahasa. Capek, menjadi salah satu excuse gw untuk malas-malasan kelas.

Ya namanya hidup, kalo ga kitanya yang keras, kita akan dikerasin. Jadi gw memilih untuk keras walaupun susah. Salah satu yang bisa buat gw semangat adalah support dari orang tua dan orang sekitar. Temen seperjuangan gw salah satunya, dia juga selalu nanya masalah les gw. Walaupun dia ga pernah menyuruh gw berangkat tapi semacam ada yang menyentil kalo gw males-malesan. Usaha berat berbuah manis karena diakhir les hasil Final Exam gw mengalami peningkatan skor yang signifikan. Sayangnya sertifikat yang gw dapat tidak diakui Internasional sehingga gw harus ambil tes khusus di luar les dengan biaya yang ga murah. Lagi-lagi semacam ada batu penghalang untuk mencapai cita-cita gw. Tapi karena udah punya cukup tabungan, akhirnya gw merelakan tabungan untuk beli mainan favorit dialihkan untuk membayar tes khusus tersebut. Karena udah pede di final exam hasilnya bagus, jadi pada hari-H tes gw juga pede aja. Ekspektasi gw terlalu jauh ternyata. Di hari pengumuman tes, nilai gw turun drastis dan jauh dari minimum requirement.

Entah karena keinginan yang kuat buat kuliah, gw ga peduli dengan hasil tes dan mulai browsing tentang kuliah di Eropa. Pas lagi cek, ternyata English score requirement bukan yang tesnya gw ambil melainkan nilai dengan tingkat tes yang lebih susah dari sebelumnya. Gw perjelas sedikit disini jadi sebelumnya gw ambil TOEFL PBT (Paper Base Test) akan tetapi yang dibutuhin untuk kuliah di Eropa adalah skor IELTS atau TOEFL iBT (internet Base Test). Further Information. Ga peduli dengan tes yang lebih susah dengan semangat yang tressa gw akhirnya memutuskan untuk mencari tempat les lain di Makassar. Iya, penempatan gw kerja pertama kali adalah di Makassar. Lagi asik mencari tempat les, gw malah dapat kabar dipindahin ke Balikpapan. Kembali, ekspektasi mengalahkan realita. Balikpapan yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia Timur tidak memiliki fasilitas lengkap seperti Makassar. Sempet mau nyerah karena selalu diarahkan ke “jalan buntu”. Padahal terkadang di “jalan buntu” tidak seutuhnya buntu atau tidak ada jalan keluar. Karena jika kita ga menemukan jalan keluar, maka buatlah jalan tersebut.

Perjuangan menggapai cita-cita belum berakhir, masih banyak kisah hingga status gw saat ini resmi sebagai salah satu mahasiswa perguruan tinggi negeri di Negeri Paman SAM.

Perusahaan Telekomunikasi terbesar.

Juli 2013, tepat sebulan gw bekerja disalah satu perusahaan Telekomunikasi terbesar di Indonesia. Kalo gw nulis blog ini di Juli 2016, berarti udah 3 tahun lalu. Time flies. Perusahaan ini nantinya akan menjadi tempat terakhir gw bernaung sebelum kembali menjelajah. Kenapa  menjelajah lagi?. Akan gw jelasin di paragraf selanjutnya.

Menjelajah. Diambil dari kata dasar jelajah yang berarti menelusuri atau bepergian atau mengunjungi sebuah tempat. Sebelum kerja di tahun 2013, sebenernya gw udah lulus kuliah di tahun 2012 tepatnya bulan Agustus. Dikarenakan gw yang terlewat lebay dalam menghadapi Sidang Akhir, gw memutuskan untuk tidak bekerja dan tidak akan mencari kerja sampai gw di wisuda. Kebetulan waktu itu gw juga bertanggung jawab disalah satu organisasi X (klik). Dan entah kenapa keputusan gw didukung sama kedua orang tua gw. Ibarat dikasih hati minta jantung, udah gw menunda untuk mencari kerja yang notabene orang tua gw “harus” memberikan gw kebutuhan pokok, gw malah meminta dan memohon sama mereka untuk bisa ikut program Student Exchange. Sebuah program pertukaran pelajar antar negara. Parahnya lagi itu menggunakan biaya sendiri. Jadi ya kebayanglah butuh berapa lembar uang 100rb-an supaya gw bisa ikut program itu. Tapi dengan kebaikan orang tua gw, akhirnya gw berangkat Student Exchange ke Turki dan menghabiskan waktu 3 bulan untuk “belajar” disana.

Diantara temen sepergaulan, mungkin gw merupakan salah satu yang paling nyeleneh dan semau gw. Setelah lulus banyak yang langsung rajin mengunjungi Job Fair (event untuk para fakir kerja). Gak sedikit juga hanya butuh waktu 2 bulan mereka udah mulai bekerja dan mendapatkan sedikit upah agar bisa membeli semangkuk nasi. Gw, dengan santainya mengurusi organisasi X dan tidak mendapatkan bayaran 1 sen pun. Sempet 2 bulan setelah lulus gw mendapatkan panggilan kerja disalah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dan gw menolak dengan alasan bayarannya yang diluar ekspektasi serta lagi-lagi dedikasi gw terhadap organisasi X.

1 tahun gw memilih jobless. Tepat di bulan Juni 2013, gw mendapatkan panggilan di perusahaan Telekomunikasi yang udah gw sebutkan diatas. Ga peduli dengan status karyawan yang hanya sebagai Outsourcing, gw dengan bangganya masuk dan bekerja di perusahaan tersebut kurang lebih 6 bulan. 6 bulan itu merupakan waktu gw untuk bisa sadar bahwa seorang Outsourcing di perusahaan tersebut sangat sulit mendapatkan kesempatan untuk menjadi pegawai tetap apabila tidak memiliki kemampuan yang outstanding. Jadi disela-sela kerjaan gw yang cukup “santai”, sudah pasti demi kemapanan dan masa depan yang cerah gw apply ke 100 perusahaan lain. Gosip di kantor yang menyebutkan akan banyak pegawai yang akan di PHK, membuat gw memutuskan untuk hengkang dari perusahaan tersebut. Diawal bulan gw hengkang, gw menyesal karena walau dengan Curriculum Vitae (CV) yang bertuliskan “Perusahaan Telekomunikasi terbesar di Indonesia”, mencari pekerjaan tidak semudah menangkap Pokemon pada permainan Pokemon Go. Selama kurang lebih 4 bulan gw bekerja semerawutan. As long as I get money, I will do everything, tapi ga menjual diri juga. Dengan kerjaan yang seadanya tapi gaya hidup yang semaunya, membuat tabungan gw kian menipis. Hingga tiba dititik dimana gw udah ga ada tabungan dan hal yang tidak mungkin untuk meminta uang ke orang tua, gw mendapatkan panggilan di “Perusahaan Telekomunikasi terbesar di Indonesia” sebagai pegawai tetap. Awalnya gw ga begitu excited  dengan panggilan itu karena banyak pengalaman gw gagal tes dibanyak perusahaan ternama. Hanya berbekal bismillahirrahmanirrahim gw menjalani tes tersebut. Lancar. Tepat di bulan April 2014 gw resmi menjadi pegawai tetap. Senang? pastinya. Bangga? Jelas. Akan tetapi, penerimaan gw di perusahaan ini bukan akhir dari cerita hidup gw. Dengan diterimanya gw di salah satu perusahaan telekomunikasi terbaik di Indonesia justru awal mula kisah perjalanan hidup gw yang sampai detik ini masih menjadi misteri

My Love, My Journey, My Adventure.

berbicara tentang cinta, gw merasa hal itu layaknya trip atau travelling. kenapa? karena cinta merupakan bagian dari hidup dan hidup merupakan perjalanan bukan sebuah tujuan.
untuk urusan trip atau travelling, jangan tanya gw, disuruh beli gula di warung sebelah aja gw minta temenin pembantu gw. takut nyasar?bukan-bukan, gw takut ada yang nyulik. kasian enyak babe gw, susah buat anak macam gw gini.

kali ini gw mau sedikit membicarakan 3 hal yang gw tulis sebagai judul, cinta, perjalanan, serta petualangan.

sebagai seorang traveller kacangan, gw sebenernya bukan orang yang pantas buat dijadiin bahan tanya jawab tentang trip apalagi backpacker. gimana ceritanya backpack kalo ke Bandung 2 hari 1 malam aja gw bawa koper segede kulkas. so, yang mau gw ceritain disini adalah tentang sudut pandang yang gw alami selama gw travel atau trip sendirian.

banyak yang bilang, lo belum jadi traveller kalo belum pernah trip atau travel sendirian. entah itu cuma di dalam kota, keluar kota, dalam negeri bahkan luar negeri.
trip sendiri itu, ya semua sendiri. ga ada temen trip, ga ada sesuatu yang bisa diandalkan deh. simpelnya sih, kalo lagi butuh duit ya ga ada yang bisa diutangin.

intermezzo sedikit untuk membahas apa itu solo trip (menurut sudut pandang gw). solo trip itu trip sendirian. sendirian yang berarti lo ga akan punya temen trip mulai lo melangkahkan kaki keluar rumah, sampai di tempat tujuan dan balik lagi ke rumah. tapi biasanya sih, orang-orang solo trip itu akan mendapatkan teman pada saat sedang perjalanan menuju tempat tujuan atau pada saat udah sampai di tempat tujuan dan bahkan bisa bertemu pada saat perjalanan pulang.
intinya ga perlu takut deh buat solo trip. selama lo masih bisa ngomong bahasa manusia, ga sulit kok buat nemuin partner-in-trip atau lebih gaul dengan sebutan “teman senasib”.

back to topic.
sebagai anak mami dan anak rumahan garis keras, gw bukanlah tipe cowo petualang yang tanpa sepengetahuan orang rumah tiba-tiba gw udah ada di hutan irian. atau tiba-tiba gw udah berada di puncak gunung himalaya. tapi makin ke sini gw mikir, idup gw gini-gini aja deh, perlu sesuatu yang fresh nih *sa’elah*
akhirnya atas izin nyokap bokap (itupun udah dimandiin kembang 7 rupa), gw akan pergi sendirian atau solo trip untuk pertama kalinya. tanpa nyokap, bokap, adek, apalagi pembantu gw.
ya namanya anak rumahan garis keras, kala itu gw tetep minta ongkosin sih walau pas-pas-an. :p

kebetulan, solo trip pertama gw, gw pergi ke daerah yang cukup jauh dan membutuhkan transportasi bernama pesawat. setelah dianter nyokap sama adek gw dan nangis-nangisan perpisahan, akhirnya pesawat gw take off dari bandara ‘Presiden-serta-Wakil-Presiden-Pertama-Indonesia’. ga cukup lama gw melayang di udara tapi cukup membuat bokong gw yang udah tepos ini makin tepos.

akhirnya gw sampai di daerah tertentu di muka bumi ini.
excited? Jelas banget. bangga? iya-lah, solo trip pertama. bingung? SANGAT!.
alasan gw bingung disini adalah karena daerah yang gw kunjungin merupakan daerah yang memiliki bahasa lokal tersendiri dan secara kebetulan gw “belum” bisa bahasa lokalnya. bersyukur di daerah itu ada orang yang bisa gw ajak bicara karena dia bisa bahasa interlokal atau bahasa umum masyarakat di muka bumi ini.

dari sini, gw mulai merasakan yang namanya sebuah petualangan. mencari sesuatu yang bisa membuat gw bertahan hidup. bertahan hidup bukan berarti gw cuma harus mencari asupan perut. tapi gw harus mencari asupan sosial juga, kalo bisa sih malah asupan hati #eh.
bagi gw yang traveller kacangan, bukan hal mudah untuk mau mendekati dan belajar bahasa lokal awalnya. pemikiran takut digigit sama orang asing masih menempel erat dibenak gw.jadi boro-boro asupan hati, asupan perut pun gw susah mendapatkannya karena gw harus berbicara bahasa lokal kalo ingin membeli makanan.

hari pertama gw lewatin dengan aman karena si orang lokal yang gw temui di airport bersedia menemani gw untuk mengenalkan tentang daerah itu. tapi untuk hari selanjutnya gw harus bisa survive sendirian.

di hari berikutnya, perut gw memaksa gw untuk segera mencari asupan. daripada gw harus makan orang lokal, gw memutuskan mencari warung atau toko klontong. setelah ketemu dan dengan modal keberanian, akhirnya gw memasuki toko klontong tersebut untuk beli camilan.
as always, selalu inget dengan quote “gunakanlah bahasa tarzan jikalau kita tidak bisa berbahasa lokal suatu daerah”. dengan bahasa tarzan yang juga seadanya gw mendapatkan 2 bungkus coklat dan satu botol air mineral dari toko tersebut. YEAY!masalah perut kelar.

eits, tidak hanya berakhir dengan kesulitan berkomunikasi. letak yang cukup jauh antara tempat penginapan dan pusat kota membuat gw kebingungan untuk bisa pulang ke penginapan. (alasan gw mengambil penginapan yang jauh dari pusat kota, karena biasanya makin jauh dari pusat kota harga yang ditawarkan makin murah).
bersyukur, daerah yang gw singgahi ga primitif banget, masih ada 1-2 mobil macam angkot kalo di Jakarta. yang jadi masalah sebenarnya adalah, supir-supir angkot tersebut ga ngerti bahasa selain bahasa lokal. Untuk jelasin air mineral dengan bahasa tarzan sih gampang, lah kalo jelasin alamat pake bahasa tarzan(?) seminggu juga ga akan kelar.
cara ngatasinnya, ya gw menyebutkan nama tempat penginapan. entah apa yang diomongin sama si supir, kalo dia ngajak gw bicara gw cuma jawab dengan nama penginapan.
setelah melewati 2 tikungan dan satu jalan lurus, akhirnya sampailah gw di penginapan dan mengistirahatkan badan. at least, gw jadi tau caranya bolak-balik pusat kota ke tempat penginapan.

seminggu lebih 2 jam, gw bisa bertahan hidup di daerah itu, walopun selama seminggu itu juga gw makan makanan dengan jenis yang sama dan di toko yang sama pula. maklum belum bisa move on. bukan curhat

seperti yang gw bilang sebelumnya, saat solo trip, kita pasti akan haus sosial. maksudnya, gw butuh teman untuk ngobrol untuk sharing cost pengalaman, atau hanya sekedar minjem duit. lagi-lagi modal keberanian, gw berburu manusia, bukan untuk dimakan, tapi untuk dijadikan teman ngobrol. kalo bisa lebih dari temen ya sukur #eh.
mata gw yang lagi nyari “kambing ilang” teman ngobrol, mungkin bagi orang lokal gw terlihat seperti pemerkosa yang lagi nyari mangsa (kebetulan yang gw perhatiin selalu sosok wanita sih) :p

nyerah.
karena setelah 1 jam berkeliling di pusat kota, gw ga nemuin ‘teman ngobrol’. gw akhirnya memutuskan untuk duduk santai di taman kota. lagi asik duduk dan mengkhayal yang aneh-aneh, gw melihat sesosok wanita yang familiarfamiliar disini maksudnya dia ga berpakaian layaknya orang lokal, dia lebih ke cara berpakaian seorang traveller. kebetulan dia berdiri di dekat tempat gw duduk. seketika dia menengok ke arah gw, tanpa basa-basi gw nyeletuk “Jakarta?”, hening yang cukup lama dan disambut dengan kalimat “iya, lo juga?”. AMAZIIING!!. seperti bertemu malaikat dikobaran api neraka. seperti bertemu sumber mata air di tengah gurun pasir. #lebay

ga butuh waktu lama untuk akhirnya kita saling ngobrol dan tukar informasi.

satu hal yang gw alami dan gw tarik kesimpulan. setidak asiknya orang yang kita temui di trip, setidak cantik atau ganteng nya orang tersebut. pasti kita akan melihat orang itu sempurna. layaknya lo ketemu air di gurun pasir. mau air itu ga enak rasanya, tapi pasti akan lo minum sebanyak-banyaknya dan akan lo syukuri di awal, walau pada akhirnya, setelah puas terkadang kita akan tersadar bahwa sebenernya air itu ga enak. sama kayak wanita yang gw temui ini, terlihat manis. tapi apakah manisnya itu sementara karena gw terlalu excited bertemu “teman ngobrol” atau memang manis sesungguhnya? #beaware

masalah perut udah, masalah sosial udah, yang belum? iya, masalah hati.
masalah yang sangat sulit dilewati terutama bagi gw yang masih itungannya ABG labil-yang-kalo-liat-lebih-cantik-dikit-langsung-ngiler.

kenapa ditulisan ini gw mengangkat masalah hati? karena ga sedikit juga orang/pasangan traveller yang terjadi akibat pertemuan ga sengaja layaknya gw ketemu wanita tadi.
pasangan itu saling suka karena mungkin awalnya disebabkan kesamaan nasib. nasib jauh dari kampung halaman, nasib jauh dari keluarga dan yang terlebih parah adalah nasib jauh dari pacar #bukancurhat
orang yang traveller banget pasti akan memilih mengunjungi tempat-tempat yang jarang terjamah masyarakat pada umumnya. hal itu menyebabkan mereka sulit berkomunikasi dengan keluarga atau pacar yang terkadang, bagi traveller yang masih labil akan sangat mudah tertarik dengan orang yang baru semenit berkenalan.

kembali lagi ke masalah gw. masalah yang belum terpenuhi, masalah hati.

setelah menilik info, ternyata si wanita yang gw ketemu sebelumnya akan stay di daerah itu kurang lebih mirip dengan gw, gw seminggu lebih dulu pulang ke kampung halaman gw yakni Jakarta.
merasa sebagai temen satu ngobrol satu-satunya yang gw punya, entah, gw jadi melihat banyak persamaan atau lebih tepatnya cocok dengan wanita itu. gw merasa dia pun seperti itu, dia cocok sama gw, geer. walopun di-awal mempunyai itenary yang berbeda, kita berdua malah memutuskan untuk saling “menemani”. alasan klise-nya ‘takut nyasar’ (nice try,dii)

karena berbeda tempat penginapan dan memang mempunyai itenary yang berbeda, terkadang gw ga travelling sama dia. tapi kita lebih intens bertemunya walau hanya sekedar ketemu pas makan malem.
hari demi hari berlalu, obrolan kita berdua juga udah masuk ke hal-hal pribadi.
dan gw melihat, wanita yang hobi travelling lebih ekspresif dibanding yang engga. dia sangat nunjukkin kalo dia tertarik sama gw bukangeer
waktu yang cukup lama membuat gw menjadi sangat intim. seperti ter-isolir dengan dunia luar. gw seperti menikmati waktu bersamanya. hingga akhirnya gw harus pulang lebih dulu.
awalnya dia bilang ke gw supaya me-reschedule jadwal penerbangan gw. tapi karena gw harus kembali bekerja, gw memutuskan untuk tidak mengganti jadwal dan semacam berjanji kepada wanita itu bahwa kita akan lebih sering ketemu di Jakarta. dia pun meng-iya-kan.

nasib berkata lain, secara permasalahan yang terjadi di tempat trip gw, semua sudah terpenuhi. tetapi saat gw kembali ke rutinitas, justru masalah kembali muncul. gw dan dia malah jadi ga bisa bertemu, karena gw sibuk bekerja dan dia sibuk kuliah.
janji pertemuan yang selalu tidak match malah membuat keputusan dari kita berdua untuk tidak saling bertemu lagi dan bertindak layaknya stranger.
berharap seperti traveller lain yang berakhir di pelaminan, gw malah berakhir dengan seperti ini.

sebuah pengalaman yang ga akan pernah terlupakan. tapi dari situ gw mengambil pelajaran tentang quote yang berbunyi
“apa yang terjadi di puncak gunung biarkanlah tertinggal di puncak gunung”.
gw menarik kesimpulannya adalah apa yang terjadi selama kita trip ya biarkanlah tertinggal di tempat trip dan akan menjadi kenangan yang tak terlupakan ketika kita akan balik ke tempat yang sama suatu hari nanti.🙂

 

First love y

first love.

Apasih yang biasa tebersit dipikiran seseorang kalo denger kata first love?. menurut ejaan yang baik dan benar, first love ya cinta pertama. kalo anak gaul jaman sekarang sih umumnya biasa nyebut first love sebagai pacar pertama, tapi menurut gw first love adalah ketika lo melihat lawan jenis dan terdapat perasaan deg-deg ser dalam diri lo even lo akhirnya ga pacaran atau sekedar berteman, perasaan pertama deg-deg ser itulah yang bisa disebut cinta pertama / first love.

ditulisan kali ini gw mau sedikit cerita kisah first love gw, karena disebut perasaan deg-deg ser untuk pertama kalinya melihat lawan jenis yang menarik hati jadi pengalaman ini ya gw alami ketika umur gw belum genap 10 taun atau sekitar kelas 4 SDuntuk urusan pacaran atau gebetan, boro-boro kepikiran bahkan gw belum mengerti akan hal itu. setau gw, jangankan sampai ke tahap pacaran, baru deket sama cewe lain aja udah di-cie cie in padahal maksud hati mau minjem buku catatan. belum lagi kalo kita minta minum ke lawan jenis, maksud hati meminta ‘dan meminum dari sedotan yang sama’ karena ga punya duit untuk membeli malah berakhir dengan ledekan bahwa gw udah melakukan ciuman jarak jauh dengan si lawan jenis. konyol tapi gw percaya.😀

kejadian itu berawal pada saati gw kelas 4 SD, waktu itu masih jaman-jamannya kita ke sekolah naik anter jemput dengan mobil khasnya kalo ngga kijang kotak taun 90an ya mobil elf. saat itu, jujur gw belum aqil baligh (sebutan orang jika sudah mulai men-dewasa), boro-boro aqil baligh, kalo di saluran telepon aja gw lebih sering disebut sebagai ibu-ibu. sedih.

dibalik suara kewanitaan gw, ada hal yang dulu gw bisa banggain yaitu gw terpilih sebagai anggota REGINTA (Regu Inti Andalan). kalo dilihat dari namanya grup itu kayaknya eksklusif banget, semacam hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk regu itu dan entah gimana si pembina menyeleksi anggotanya kok ya orang macam gw ini bisa keterima.
sebelum berlanjut, gw pengen cerita/intermezzo sedikit dengan regu Andalan ini, gw akui regu ini terdiri dari orang-orang pilihan, orang yang selalu rangking 10 besar di kelasnya dan bisa dibilang orang yang bersikap baik. gw? bolehlah masuk 10 besar dikala itu, sikap gw?minus!. dengan requirement seperti itu sudah dipastikan orang yang berada di regu Andalan itu ganteng-ganteng dan cantik-cantik (regu ini terdiri dari 20 orang, 10 pria dan 10 wanita).
bagi gw yang cukup lumayan ancur, gw bangga dong dijajarkan dengan orang-orang hebat dan secara otomatis kegantengan dan kepedean gw naik sekitar 2.9%. secara teoritis, kemungkinan cowo yang terdapat di regu itu untuk jomblo adalah 0.9% dan itu gw.

sedikit intermezzo, dari taun 90an, cewe itu udah seneng liat cowo gagah, makanya bagi yang belum gagah, segera gagahi diri. #ini ngomong apa sih gw

oke, kembali ke topik. karena ganteng gw udah bertambah 2.9%, otomatis gw berpikiran “kalo gw naksir cewe, pasti si cewe juga naksir gw dong” (padahal gw termasuk kalangan 0.9% cowo yang jomblo di regu itu). tapi, karena hanya kegantengan gw yang nambah 2.9% tapi kejantanan gw malah menurun 0.9% (ini alasannya kenapa gw doang yg jomblo) alhasil saat temen-temen se-regu gw pada pulang naik angkot (angkutan umum) gw lebih memilih untuk setia naik jemputan dan minta dianter sampe depan rumah (yaiyalah, namanya juga anter jemput).

secara kebetulan di mobil jemputan gw, ada seorang cewe yang manis, kita sebut dia sebagai Bulan.
gw cukup deket sih sama dia, at least walaupun gw ga pernah ngobrol berduaan, dia selalu ketawa ngeliat kelakuan konyol gw (udah bawaan lahir kayaknya kalo otak gw agak somplak). karena hal itu pula, akhirnya gw malah jadi sering duduk deket dia dan sampai pada moment gw dikatain sama junior gw “ih, lo suka ya sama Bulan, duduknya deketan mulu!!tembak aja udah..”, seketika mendengar kata itu, gw langsung kepikiran gw harus nembak si Bulan pake senjata power ranger.

karena gw ga mengerti apa yang dimaksud junior gw, gw malah balik nanya “maksudnya gw nembak si Bulan tuh gw ngapain?”, sepersekian detik setelah gw nanya, posisi gw udah berubah diujung pintu mau dilempar keluar sama junior gw, bersyukur pintu jemputan gw kala itu lagi macet, jadi nyawa gw selamat untuk kesekian kalinya. (ini kok ya senior dibully junior)

karena gw ga ngerti kalo nembak yang dimaksud sama junior gw itu adalah menyatakan perasaan, alhasil gw minta tolong ditolong sama junior gw untuk menyatakan perasaan. caranya? lewat pesan singkat, karena belum jaman handphone atau sms, maka alat yang menjadi perantara adalah junior gw sendiri. percakapan yang cukup panjang. walaupun gw gatau apakah yang gw omongin sesuai dan sampai ke si Bulan, pokoknya Bulan tersenyum manis dan mengiyakan kalo kita PACARAN. YEAAAY!!!! (bangga banget gw kala itu)

pacaran yang gw jalani jelas ga kayak pacaran jaman sekarang yang gandenganlah, rangkul-rangkulan, suap-suapan. simpel, cuma sekedar ngobrol dan becanda aja bahkan lebih sering ngebahas pelajaran di sekolah (ini kelompok belajar apa pacaran sih?)
satu hal yang bisa membuat si Bulan bangga punya temen cowo kayak gw adalah gw bisa membaca waktu hanya dengan melihat letak matahari.
bingung gw juga, darimana gw bisa kemampuan seperti itu, yang jelas saat itu kalo mau tau waktu, gw tinggal liat posisi matahari, sebut jam dikala itu dan si Bulan akan mengangguk tanda setuju dengan yang gw katakan.
setiap si Bulan nanya dengan kemampuan gw yang magic aneh itu, gw hanya jawab dengan “karena gw REGINTA”. that’s all dan dia percaya dan tersenyum dengan senyum khasnya.

umur pacaran gw saat itu cukup lama, ga kalah sama orang pacaran jaman sekarang. ya seumuran dengan……jemputan gw.
jadi saat gw sama dia udah ga naik jemputan dan disaat itu juga gw putus sama dia. alasannya pun gw lupa kenapa bisa putus sama dia. tapi untuk first love dia cukup manis kok. (kemudian galau dipojok kamar)

setelah tragedi pacar-pacaran itu, gw sempet satu sekolahan sama si Bulan hingga SMP dan pisah hingga sekarang ini. kabar terakhir yang gw tau sih dia kerja di Bali. kalo diliat fotonya juga dia masih manis dan sekarang sih terlihat bertambah sexy #eh

7 Years ago

7 tahun lalu..

pertama kali kembali melihat dirinya setelah terpisah 3 taun berselang karena harus berpisah pada saat SMP. dia, nothing special, actually. just ordinary girl but i saw her in different way.
gw ngeliat dia lagi di bangku SMA, posisi duduk yang tetanggaan membuat gw dan dia saling penasaran untuk tau “siapa dia?”. karena bagi gw, diawal itu, muka dia terlihat familiar banget, seperti pernah kenal tapi lupa kita kenal dimana dan karena apa. akhirnya kita saling menyapa dan menuduh bahwa kita merupakan alumni salah satu sekolah Madrasah di daerah ciputat. setelah chit-chat akhirnya terbukalah rahasia dia siapa dan mengapa terlihat familiar.

Sayangnya di SMA tersebut gw hanya bertahan setaun karena ga kuat dengan letak sekolah yang cukup jauh dari rumah dan memutuskan untuk pindah. tapi saat gw pindah, gw merasa, kita udah saling deket. suka cerita, curhat, dan dia pun salah satu yang heboh pada saat gw pindah (sori kalo terlihat geer). tapi dengan kepindahan gw bukannya kita malah lost contact however more intens than i expected. saling cerita, saling curhat masalah gebetan atau pacar. seru sih, dan satu hal, dia asik!

setelah 2 taun ga ketemu dan hanya berkomunikasi lewat sosial media, akhirnya gw bertemu lagi sama dia di masa-masa SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri). kebetulan pun, gw dan dia bernasib mirip dimana gagal dalam tes sehingga mencoba jalur lain. Menggunakan jalur lain kemudian tes, tak dinaya tak disangka gw keterima di salah satu Universitas negeri tersohor di Indonesia. karena kebetulan gw juga udah keterima di almamater gw yg sekarang akhirnya kesempatan untuk berkuliah di Universitas ‘Istimewa’ pun gw lepas. dia yang sangat ingin berkuliah disana sangat menyesali dan menghujat gw berkali-kali. dia bilang “udah sini kursinya buat gw aja!!huh!”. lucu.

masa kuliah pun akhirnya dimulai, gw di bandung dan dia di jakarta. entah sejak kapan persisnya, gw nampak tertarik sama dia tapi ga berani mengungkapkannya (seileeh bahasa gw). dulu sih pemikiran gw adalah “kalo gw jadian sama dia, siapa lagi yang bisa gw curhatin?”.
akhirnya gw punya pacar begitupun dia. sama-sama saling curhat tp rasa suka sama dia ga bisa ilang. terlebih ketika itu mendapati satu moment dimana gw jalan bareng berduaan doang sama dia. simpel, cuma makan dan berkeliling salah satu mall di bilangan jakarta. entah, disitu gw liat dia cantik banget padahal gw sama dia saat itu udah punya pacar masing-masing. tetep, gw tahan untuk ga bilang kalo gw suka sama dia. alasannya kembali lagi “kalo gw jadian sama dia, siapa lagi yang bisa gw curhatin?”.

kegiatan yang gw lakukan, mulai dari curhat, jalan bareng, terus aja bergulir hingga ada suatu moment yang menurut gw agak ga ngenakin dan berakibat gw menghindar dari dia. no contact and its been a year.

sampe akhirnya belum lama ini, gw kembali ketemu dia dengan keadaan yang berbeda. dia udah kerja, gw juga (alhamdulillah) udah kerja dan yang sama dari kita, kita jomblo. saat gw ketemu dia, seperti cowo gentle pada umumnya, gw jemput dia ke rumahnya. begitu dia keluar rumah, wow, sempurna, cantik dan beda. acara malam itu pun simpel, hanya makan, jalan dan pulang. tp entah kenapa gw seneng banget. ada moment dimana di mobil kita sama-sama diem, pas mau bilang jujur kalo gw suka dia, pemikiran itu selalu kembali lagi “kalo gw jadian sama dia, siapa lagi yang bisa gw curhatin?”.
tapi gw pernah denger dan baca sebuah quote yang kurang lebih bunyinya ‘kalo emang sayang, suka, cinta, ungkapin aja. masalah mendapat feedback bagus itu nomor dua’. oke, mungkin saatnya gw harus bilang. kapan waktu yang tepat? hanya Tuhan dan gw saja yang bisa menjawabnya.